Test Footer 2

Jumat, 02 Oktober 2015

Brutalitas Selok Awar Awar: Berjuang Bersama Salim Kancil

Keberanian bisa menular. Ketika seorang pemberani mempertahankan keberanianya, semua orang menjadi tegak (Billy Graham)
Kita harus membangun tanggul keberanian untuk menahan banjir rasa takut (Martin Luther King)
26 September 2015

KUPERKENALKAN lebih dulu siapa orang yang mau kuceritakan. Namanya indah: Tosan dan Salim. Aku sulit melukis wajahnya tapi mudah menggambar perasaannya. Pria yang mudah tersentuh dan iba. Pria yang mencintai tanahnya dan rela berkurban untuk itu semua. Pria yang meyakini bahwa tambang di desanya hanya membawa petaka. Keyakinan yang berujung malapetaka. Keyakinan yang membuat mereka teraniaya. 
Mereka dianiaya mirip dengan binatang: didatangi oleh rombongan bermotor yang membawa senjata. Pentungan, cangkul, clurit hingga batu. Konvoi itu pasti melalui rumah warga. Konvoi itu pastilah menarik perhatian aparat. Tapi entah mengapa rombongan itu lancar hingga mencapai rumah Tosan. 

Tentu Tosan terkejut, bingung dan takut. Sambil bawa sepeda Tosan selamatkan diri. Tosan mengayuh dengan tergesa-gesa. Tapi laju mesin motor itu jauh lebih cepat dibanding kekuatan kaki Tosan. Sepeda itu ditabrak dan Tosan terpelanting. Di sana tubuhnya jadi sasaran brutalitas: dipukul, dicangkul, ditendang bahkan dilindas. Berhenti karena tindakan seorang warga yang pemberani: Ridwan-sahabat Tosan- yang berusaha melerai.

Tanpa maaf dan malu rombongan srigala itu menuju sasaran lainnya. Kini mereka menuju rumah Salim. Salim pria penyayang cucu itu didatangi. Saat melihat mereka, Salim sedang gendong cucu. Tahu gelagat tak beres, Salim masuk rumah sambil bawa cucunya. Cucunya yang berusia lima tahun itu buru-buru diletakkan di lantai. Tanpa peduli rombongan itu dobrak rumah dan menangkap Salim. Salim diikat tanganya lalu dibawa ke Balai Desa. Jaraknya lumayan jauh untuk jalan kaki: 2 kilometer. Di hadapan sorot warga desa, Salim dipukuli sepanjang perjalanan. Tak ada yang berani memprotes. Hari itu nama keyakinan mereka adalah rasa takut. Di Balai Desa saat itu ada PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang sedang beraktivitas: Salim terus dihajar bahkan disterum berkali-kali. 
Hari itu Balai Desa menjadi ladang pembantaian Salim. Laporan KontraS beritahu kalau sempat Salim digergaji. Seluruh adegan kejam itu berlangsung di pagi hari. Matahari jadi saksi bisu kebiadaban itu. Salim yang babak belur tapi tak banyak luka itu akhirnya diseret ke dekat makam. Kesal karena seolah Salim kebal, penganiaya ambil batu. Di sana kepalanya dipukuli berkali-kali dengan batu. Berulang-ulang hingga roboh dan bermandi darah. Salim wafat seperti paman Nabi, Hamzah: tercabik-cabik dengan batu serta kayu di sekitar tubuhnya. 
Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasiran, Kabupaten Lumajang meyandang nama keji: ladang pembantaian aktivis penolak tambang.

Apa salah keduanya? Ini: keduanya menolak keberadaan tambang pasir. Yang datang dengan izin palsu. Katanya izin pariwisata. Tapi bukan bus wisata yang datang tapi truk angkut pasir. Truk itu bukan hanya merusak tapi menganggu jalan. Tak hanya truk, bisnis ini mengancam lingkungan. Sudah berulang kali bupati disurati, diajak ketemu hingga audensi. Mereka keberatan dengan keberadaan tambang pasir itu. Camat yang mewakili bupati Lumajang tak hirau dengan keberatan warga. 
Batas kesabaran warga sudah jebol. 9 September 2015, dilakukan aksi damai menghadang truk muatan pasir. Warga merasa keberatan dengan aktivitas itu yang kemudian melahirkan surat pernyataan penghentian aktivitas penambangan pasir. Tapi keberatan berbalas ancaman dari kelompok preman. Sasaran ancaman itu mengarah ke pak Tosan. Merasa terancam, warga lapor polisi. Pinginnya polisi usut tindakan ancam-mengancam ini. Mengingat pak Tosan merupakan anggota dari organisasi yang dibentuk sejak Januari 2015: Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar Awar. Forum yang sedari awal keberatan dengan proyek tambang pasir. Terhimpun di sana 12 warga yang berani menolak. Tapi belum sempat diusut pecahlah pembantaian keji ini.

Yang pasti, saat pembantaian itu berlangsung, polisi seperti lenyap. Aparat yang salah satu tugasnya adalah menjaga, memelihara dan melindungi keamanan warganya. Andai polisi ada tentu konvoi para algojo itu akan ditangkap, ditanya, dan bahkan mungkin dijerat. Kesalahanya bisa berlapis-lapis: melakukan konvoi motor tanpa pakai helm, membawa senjata tajam, punya itikad jahat, tak peduli dengan aturan dan tentu menganiaya dan membunuh orang secara keji. Polisi punya banyak pasal untuk menjerat. Lebih-lebih warga pernah melaporkan indikasi ancam-mengancam itu. Tapi seperti biasa polisi janji: bahwa laporan akan ditindak-lanjuti dan segera akan dikoordinasikan. Bahkan nama-nama polisi yang mengurusi soal ancam-mengancam itu diberitahukan ke warga. 

Sayang hari itu pak Tosan dan Salim tak bertemu sama sekali dengan petugas Polisi. Keduanya dianiaya di pagi hari, di tengah sorotan warga dan tanpa diketahui oleh satupun petugas polisi. Hari itu aparat keamanan sedang membubarkan diri dan lenyap tanpa tahu ada dimana posisinya.

Yang lebih pasti lagi, di sana tak ada pemerintahan. Hari itu aparat pemerintah lenyap ditelan oleh rasa takut. Aparat yang tiap hari Senin upacara itu pasti lupa sumpah setianya: melayani, melindungi dan menjaga warga. Di hari penganiayaan itu berlangsung, kantor pemerintah berubah fungsi: kantor desa jadi ladang penjagalan dan halaman PAUD jadi tempat pembunuhan. Saat itu lambang burung Garuda jadi burung Gagak dan bendera merah putih berubah jadi merah darah. Tak terbayangkan bagaimana mereka melakukan upacara, rapat, posyandu hingga arisan ketika tempat itu pernah dijadikan ladang pembunuhan warganya sendiri. Maka saya lebih yakin di sana tak ada pemerintahan karena kejadianya mirip di alam rimba: serombongan srigala berbadan manusia yang menggunakan watak brutalnya untuk menganiaya seseorang yang menolak usaha tambang. Saat itu pemerintah seperti kehilangan kekuasaanya untuk menegakkan ketertiban, menjaga stabilitas dan melindungi warganya sendiri.

kancil2

Yang jauh lebih pasti, di sana tak ada ulama. Yang berkisah tentang kebenaran, jihad dan pengurbanan. Padahal hari itu ladang amal sedang dibuka lebar-lebar: seorang warga miskin teraniaya, diburu oleh rombongan preman, dibunuh di hadapan sorot banyak mata. Beruntung ada sahabat baik pak Tosan bernama Ridwan. Mirip sahabat Umar yang menolong Nabi: Ridwan menantang gerombolan srigala yang dipimpin preman bernama Deser. Ridwan ini mungkin keturunan wali hingga mereka tak berani kemudian pergi begitu saja. Ridwan yang tanpa atribut Haji atau Kyai ini mengantar pak Tosan hingga Puskesmas. Sayang setelah itu tak ada makhluk baik mirip Ridwan di ladang penganiayaan Salim. Salim dirajam dengan keji tanpa ada satupun ulama, ustadz, kyai hingga santri yang berani untuk mengingatkan para pembunuh. Hari itu para alim ulama yang sibuk mengaji, khutbah dan memberi petuah hilang diterkam oleh badai namanya ketidak-pedulian. Hari itu pintu amal yang dibuka seluas-luasnya tak ada yang berminat berada di dalamnya. Saya yakin saat itu: Tuhan sedih dan kecewa.

Yang jelas di sana yang hilang adalah harapan. Harapan kalau kehidupan tak bisa dilangsungkan dengan bekal keadilan dan kebenaran. Keadilan kini dilukai bukan oleh kekejaman. Melainkan tidak dihargai dan dilindunginya warga yang tak setuju dengan pembangunan tambang. Protes sebenarnya sudah dilakukan berulang-ulang tapi tak ada tanggapan. Malah preman muncul dengan ancaman. Kebenaran pasti musnah ketika preman diberi kewenangan. Kewenangan untuk memburu, menganiaya dan membunuh. Jika kemudian penganiayaan itu berbuah korban mungkin yang kita mau pastikan bukan saja para pembunuh tapi siapa ‘pesuruh’ komplotan algojo ini . Tak mungkin sebuah proyek punya tujuan benar jika didahului dengan pembantaian. Tentu soalnya bukan lagi berani atau takut melainkan memastikan kalau seluruh perbuatan kejam ini harus dipertanggung-jawabkan. Tapi hukum seperti apa yang bisa meletakkan keadilan persis seperti yang diinginkan oleh (almarhum) Salim?

Tragedi ini membuat kita semua kehilangan kepercayaan. Bukan hanya pada aparat tapi juga akal sehat. Hanya, tragedi ini memberi kita pelajaran agung tentang keberanian. Salim berusaha bertahan ketika disiksa dan tewas saat hantaman batu berulang-ulang. Kepalanya yang menyimpan pikiran benar itu harus dibunuh lebih dulu. Kepala yang berisi keyakinan teguh dan militan itu dihujani batu berulang kali. Saksi meyebut kepala korban penuh dengan luka benda tumpul. Penganiayaan yang keji itu pasti sudah direncanakan dengan jeli dan matang. Tentu kita butuh tindakan hukum segera: menangkap maupun mengadili. Tapi pengusutan itu tak menutup fakta akan pelajaran buruk di masa depan: kebebasan berpendapat makin terancam. Kini ancaman itu meluas ke mana-mana, terutama ketika para algojo itu dibiarkan memamerkan kekejamanya di tempat terbuka. Suasana teror yang tak bisa diatasi hanya dengan bersikap pasrah dan diam. Salim membuktikan pendiriannya: berani itu beresiko tapi karena itulah keberanian itu jadi perlu dinyatakan. Kini tak ada yang perlu disesalkan karena yang kita butuhkan hari ini adalah melanjutkan apa yang telah ditanam oleh Salim: keberanian menyatakan sikap dan mempertahankanya dengan penuh martabat.

Keberanian Salim melampaui para algojo. Mereka harus berombongan membunuh. Mereka musti konvoi untuk membantai. Mereka bahkan harus menggunakan bermacam-macam senjata. Salim tak punya apa-apa. Tapi Salim memiliki semua yang tak dipunyai oleh para algojo itu: keyakinan, kebenaran dan keberanian. Keyakinan bahwa tambang pasir harus ditolak dengan semua alasan. Kebenaran kalau tambang pasir itu merusak lingkungan. Hingga keberanian untuk menentangnya dengan segala resiko. Kini Salim terbaring bahagia karena telah menuntaskan tugasnya: melawan kesewenang-wenangan dengan cara yang paling ksatria. Tewas di dekat kantor desa yang biasa dipakai untuk upacara. Di sana pasti ada tiang bendera yang jadi lambang pengurbanan Salim: merah darah Salim karena dianiaya dan putih hati Salim karena membela mereka yang teraniaya. 

Selamat jalan Salim dan kami merasa salah karena tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi. Selamat jalan patriot rakyat: pak Salim Kancil.***

Penulis adalah aktivis Social Movement Institute

Catatan: Tulisan ini berhutang banyak pada dokumen investigasi yang dikirim oleh kawan Juir, KontraS Jatim. Saya menyampaikan penghargaan mendalam dan terimakasih karena diperkenankan mengutip hasil investigasi atas kasus ini. lih https://www.kontrassurabaya.org/siaran-pers/pasir-berdarah-di-tanah lumajang.

0 komentar:

Posting Komentar