Test Footer 2

Sabtu, 25 April 2015

Tembakau, Budaya, dan Proses Kreatif Sastrawan

23 April 2015 | 
oleh Membunuh Indonesia


Tradisi budaya di Indonesia bernilai seni tinggi. Dengan kecerdasan dan kualitas estetika yang mumpuni, para leluhur menciptakan kebudayaan berdasarkan alam sekitar dan hubungan vertikal dengan Sang Maha Pencipta. Mereka berjuang menghadapi kompleksitas kehidupan melalui berbagai macam penyikapan budaya dengan mencipta berbagai produk budaya.
Salah satu produk budaya adalah Tari Lahbako, tarian asal Jember yang menceritakan proses pengolahan tembakau. Jember merupakan salah satu daerah penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Tarian ini menggambarkan identitas budaya Jember.
Gerak tari ini menggambarkan kerja mengolah tembakau, seperti memetik tembakau, ngelus, dan nyujen. Tata rias busana juga memiliki makna tersendiri. Warna-warna busana yang digunakan banyak menggambarkan warna kualitas tembakau. Musik pengiring menggunakan musik kendang patrol. Tarian Lahbako merupakan produk tari kebudayaan yang mengadopsi “budaya tembakau” yang telah menghidupi rakyat Indonesia.
Salah satu produk industri hasil tembakau adalah kretek. Kretek merupakan salah satu benda yang dapat mempersatukan ruang-ruang sosial yang selama ini tersekat berbagai hierarki sosial. Kretek merupakan salah satu produk yang mampu menembus batas-batas strata sosial di masyarakat.
Di Indonesia, banyak sekali pekerja seni yang hobi menghisap kretek. Tak heran jika melihat foto-foto para pekerja seni berpose sambil menghisap kretek. Kretek adalah suatu wujud kebudayaan bangsa Indonesia.
Kretek dan seni merupakan kesatuan. Dari tangan para pekerja seni yang bekerja sambil menghisap kretek, lahir banyak karya. Ngretek membuat pikiran lebih santai, tersenyum, dan tertawa. Mendorong proses kreatif pekerja seni dalam membuat karya.
Harry Roesli pernah bilang, “Kalau aku tidak merokok, aku tidak bisa berkarya. Dan jika aku tidak bisa berkarya, sama saja aku sudah mati.”
Chairil Anwar termasuk seniman jenius. Besar kontribusinya bagi dunia sastra Indonesia. Ia pentolan generasi sastra Angkatan ’45.
Satu yang tak bisa dilepaskan dari Chairil adalah rokok. Foto-foto Chairil Anwar yang lazim kita temui sekarang adalah mata yang menatap tajam ke depan, dua alis menyatu, dan di bibir terselip sebatang rokok. Chairil Anwar memang terkenal sebagai seorang perokok berat.
Rokok membawa manfaat baginya, menjadi teman dalam melahirkan bait-bait puisinya yang menggedor. Bagaimana jika Chairil Anwar tidak merokok, bisakah dia menjadi seorang jenius seperti kita kenal sekarang?
Pramoedya Ananta Toer adalah  sastrawan besar Indonesia yang menghasilkan lebih dari 50 karya yang sudah diterjemahkan dalam 41 bahasa asing. Karya Pram penuh dengan kritik sosial, mengantarkan dia keluar-masuk penjara tanpa proses pengadilan. Selama di kamp pembuangan Pulau Buru ia tidak berhenti menulis, menghasilkan karya fenomenal “tetralogi buru”.
Pram tidak bisa dipisahkan dari kretek. Kretek selalu menemani Pram saat berkarya. Dari proses kreatif ini ia mendapatkan puluhan penghargaan, antara lain Ramon Magsaysay Award pada 1995,  gelar kehormatan Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan pada 1999, hadiah budaya Asia Fukuoka XI 2000, dan Norwegian Authors’ Union Award 2004 atas sumbangsihnya pada sastra dunia.
Kretek menyatu dalam proses kreatif Pram. Ia tidak bisa menulis tanpa menghisap kretek. Tidak akan bisa kita nikmati karya-karya sastra berkualitas tinggi hasil guratan pena seorang Pram tanpa kretek yang selalu dihisapnya. Sampai akhir hidupnya, Pram meminta keluarganya menempelkan kretek di bibirnya. Ia ingin menghisap kretek untuk terakhir kalinya.

http://membunuhindonesia.net/2015/04/tembakau-budaya-dan-proses-kreatif-sastrawan/

0 komentar:

Posting Komentar