Test Footer 2

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 17 April 2018

Kitab Suci dan Nalar Fiksi: Menguji Pernyataan Rocky Gerung

Penulis: AS Laksana* | 17 April 2018

Untuk pernyataan tentang kitab suci itu fiksi, saya menaruh hormat pada Rocky Gerung yang berani menyampaikannya secara terbuka. 

Sebetulnya sudah sering saya mendengar pendapat serupa, disampaikan sambil lalu dalam percakapan antarteman, dan hanya menjadi gumam dalam semesta percakapan mutakhir kita yang penuh teriakan. Rocky mengangkatnya ke permukaan, dengan sikap tenang dan rasa percaya diri, bahwa ia sanggup mempertanggungjawabkan pernyataannya; ia memang gemar mengusik kepala orang agar tidak merasa nyaman-nyaman saja menjadi "dungu", kosakata kesukaannya.

Lama sebelum ini, saya membaca wawancara seorang wartawan dengan kritikus sastra Harold Bloom. Di bagian-bagian akhir percakapan mereka, si wartawan menanyakan apakah Harold suka membaca dongeng pada waktu kecil dan si narasumber menjawab tidak. 

“Tetapi saya membaca kitab suci,” lanjut Harold Bloom, “dan itu sama saja.”
Berkat ribut-ribut di media sosial setelah pernyataan Rocky, saya menjadi tahu bahwa delapan tahun lalu, pada 22 Oktober 2010, Guntur Romli rupanya juga menyampaikan pendapat yang kurang lebih sama, dalam pernyataan singkat di Twitter: “Kitab suci: Fiksi yang diyakini.” Saya yakin nanti masih akan ada orang lain yang menyampaikan pendapat serupa.

Pelaporan terhadap Rocky ke polisi sama sekali tidak mengagetkan: itu reaksi khas orang-orang yang tak terlatih berdiskusi. Saya tidak berminat membahas reaksi mereka; saya hanya berminat membicarakan beberapa masalah di dalam argumen yang digunakan Rocky untuk menopang penyataan tentang kefiksian kitab suci. 


Terus terang, saya kaget ketika Rocky memperlihatkan gerak menghindar setelah mengajukan tantangan kitab suci itu fiksi atau bukan. “Siapa berani menjawab?” tanyanya. Dan ia menjawab sendiri setelah menunggu beberapa saat: Kitab suci itu fiksi.
Pikir saya, ia akan melanjutkan pernyataannya dengan lebih detail untuk menyampaikan karakteristik fiksional kitab suci. Saya menunggu argumentasinya yang kokoh, meskipun agak musykil mengharapkan pembicaraan ilmiah dalam acara hiburan di televisi, tetapi ia menikung dengan pernyataan diplomatis fiksi itu baik, yang buruk itu fiktif. Lalu ia berusaha menjelaskan dan dari sana lahir beberapa masalah.


Masalah 1: Definisi Fiksi, “Kalau saya pakai definisi…”


Ia menyingkirkan definisi yang sudah ada dan memilih definisi bentukannya sendiri, yang saya pikir problematis, tentang apa itu fiksi. Katanya: “Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu menghidupkan imajinasi, maka kitab suci itu fiksi.”

Bagaimanapun, itu definisi yang goyah. Anda tidak bisa mendefinisikan suatu benda dengan berpegang hanya pada salah satu fungsi benda itu atau potensi yang dimilikinya. Tidak mungkin saya mendefinisikan batu sebagai alat pencabut nyawa, semata-mata karena ia memiliki potensi untuk kita hantamkan ke kepala kuda sampai binatang itu mati. Tidak mungkin juga menjawab pertanyaan anak-anak “Tanah itu apa?” dengan seruan definitif: Oh, itu bahan pembuat manusia! — meski menurut ajaran agama-agama Arbahamik, Tuhan menciptakan manusia dari tanah.

Kita bisa menguji definisi Rocky dengan silogisme berikut:

Fiksi itu menghidupkan imajinasi (premis 1).
Buku Orang Jawa Naik Haji menghidupkan imajinasi (premis 2).
Buku Orang Jawa Naik Haji adalah fiksi (konklusi).

Silogisme di atas melahirkan konklusi yang keliru karena premis pertamanya bermasalah. Orang Jawa Naik Haji adalah buku catatan Danarto tentang pengalamannya pergi berhaji. Sebagai bacaan, ia menghidupkan imajinasi, tetapi dalam kesastraan tidak masuk kategori fiksi. 


Feature jurnalistik tentang satu orang nelayan di daerah terluar Indonesia juga bisa menghidupkan imajinasi pembaca tentang kehidupan para nelayan di semua daerah terluar, tetapi orang tidak akan menyebutnya fiksi. Berita akurat tentang kelaparan di Papua bisa menghidupkan imajinasi di kepala pembaca yang tinggal di Tulungagung tentang situasi mengenaskan di sana dan berita tentang kelaparan itu tidak disebut fiksi.

Artinya, frase “menghidupkan imajinasi” tidak bisa digunakan sebagai karakteristik tunggal untuk mendefinisikan fiksi. Ia gagal karena pikiran manusia memiliki kemampuan kreatif untuk mengubah kata menjadi gambar di dalam benak. Ketika kita membaca kata “kerbau”, yang akan muncul di dalam benak kita bukan susunan huruf-huruf k-e-r-b-a-u, melainkan sosok hewan yang kita namai kerbau atau seseorang yang kita juluki kerbau.


Masalah 2: “Fiksi itu Baik”


Dengan definisi yang ia gunakan, yang dengannya ia memasukkan kitab suci ke dalam kelompok fiksi, maka Rocky mau tidak mau harus menyebut fiksi itu baik. Tidak ada kemungkinan lain. Ia tidak sedang memberikan kuliah umum tentang fiksi kepada mahasiswa fakultas sastra, tetapi hanya menanggapi keberatan beberapa politikus dalam acara hiburan di televisi. Itu keberatan yang sangat mudah ditebak, dan saya pikir “fiksi itu baik” adalah jawaban yang sudah dipersiapkan oleh Rocky.

Ia memang ingin mengatakan fiksi itu baik. Ia sedang melakukan pembelaan terhadap fiksi yang, menurutnya, mengalami pemburukan makna dalam dua bulan belakangan, barangkali setelah Prabowo menggunakan buku fiksi Ghost Fleet sebagai rujukan untuk pidatonya tentang masa depan Indonesia.

Masalahnya, pernyataan fiksi itu baik adalah generalisasi yang di dalam dirinya sendiri bermasalah. Novel Dan Brown, Da Vinci Code, adalah fiksi. Ia menyampaikan informasi, di antaranya, Yesus memiliki keturunan—itu realitas fiksional yang bertentangan dengan iman orang-orang Nasrani dan Islam. 

Apakah ini fiksi yang bagus? Ayah teman saya, penganut Katolik, mengatakan itu buku sesat. Sementara khatib Jumat di masjid dekat rumah saya merayakan Da Vinci Code seperti merayakan kemenangan dan menggunakan “fakta” dari novel ini untuk membuktikan sisi-sisi lemah ajaran lain. Pak Khatib lupa bahwa Islam, Kristen, dan Katolik berbagi beberapa keyakinan yang sama soal Yesus: Ia hadir di dunia tanpa ayah biologis, diangkat ke langit oleh Tuhan, dan tidak ada cerita di dalam kitab suci masing-masing bahwa ia punya keturunan.

Buku-buku pergumulan karangan Enny Arrow juga fiksi, dan tentu saja memiliki energi besar untuk mengaktifkan imajinasi para remaja pembacanya. Para pengamat sastra bisa mengatakan bahwa buku-buku Enny Arrow adalah fiksi buruk; selera pembaca bisa mengatakan itu fiksi yang bagus sekali, meskipun kebanyakan para remaja penikmatnya tidak berani membacanya terang-terangan di depan orang tua mereka.

Sebagai pembaca, saya ingin mengatakan bahwa tidak semua fiksi itu baik. Tidak semua pikiran mampu menghasilkan karangan yang baik. Uang itu fiksi yang baik, yang memudahkan orang menjalani kehidupan yang memerlukan transaksi-transaksi yang makin kompleks, dalam skala yang makin besar.


Masalah 3: “Ia fiksi karena belum terjadi, belum ada…”


Masalah di dalam pernyataan ini mudah ditemukan: persyaratan bagi fiksi bukanlah karena ia belum terjadi atau belum ada. Hanya ramalan yang berurusan dengan segala sesuatu yang belum terjadi. Fiksi adalah cerita rekaan. Ia tidak melulu berurusan dengan masa depan dan genre dalam fiksi tidak hanya fiksi ilmiah, utopia, distopia, atau apokaliptik.

Dengan menyebutkan “belum terjadi” dan “belum ada” sebagai karakteristik fiksi, mungkin Rocky hendak menyampaikan bahwa apa-apa yang ada di dalam kitab suci tidak atau belum bisa diverifikasi, belum bisa diuji kebenarannya. Ia adalah harapan, sebuah pemandu menuju sesuatu untuk diwujudkan.

Rocky hanya membicarakan aspek eskatologis kitab suci dan melupakan bahwa tidak semua cerita di dalam kitab suci hanya bersentuhan dengan hal-hal yang belum terjadi atau belum ada. Dari kitab suci yang saya kenali, peristiwa yang belum terjadi adalah kiamat dan kehidupan kekal kelak di akhirat yang berisi dua kamar—surga dan neraka. Teologi katolik membangun satu kamar tambahan, yakni Limbo, bagian dari neraka minus siksaan fisik dan berfungsi kurang lebih sebagai asrama bagi bayi-bayi yang meninggal sebelum dibaptis, orang-orang baik, para pemikir, dan para pahlawan yang meninggal sebelum Kristus sehingga tak sempat diselamatkan.

Berdasarkan iman katolik ini Dante Alighieri menulis The Divine Comedy yang menceritakan perjalanan wisata fiksionalnya dari neraka ke surga dengan penyair Virgil sebagai pemandu. Di Limbo ia melihat Socrates, Aristoteles, Plato, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Para pendahulu Kristus juga ada di sana, ialah Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Jakob dan istrinya, Rachel, serta 12 anak mereka yang menurunkan 12 puak Yahudi, yang kelak akan diselamatkan Yesus. Selain mereka, ada Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Dante menempatkannya di Limbo karena Salahuddin orang baik, namun ia beragama lain.

Di luar urusan akhirat, bagian yang memakan banyak halaman di dalam kitab suci adalah cerita kehidupan manusia, mulai dari penciptaan dunia, asal-usul manusia, kisah nabi-nabi dan orang-orang suci zaman dulu, iblis yang melawan perintah dan minta izin untuk terus menyesatkan manusia, tongkat yang sanggup membelah lautan, orang-orang yang bisa menghidupkan orang mati (selain Yesus, ada Petrus, Elia, Elisa, dan Yehezkiel yang mengumpulkan tulang-tulang para prajurit dan menghidupkan mereka, dan masih ada beberapa lagi), cerita banjir besar, dan juga cerita tentang kaum-kaum yang mendapatkan azab, dan sebagainya.

Dalam forum yang lebih tenang, saya pikir semua keajaiban orang-orang zaman dulu—yang tidak pernah terjadi lagi di waktu sekarang—bisa diperiksa dengan memanfaatkan seluruh sumber daya pengetahuan yang sudah ada. Temuan-temuan terbaru sains dan informasi-informasi yang valid dari sejumlah penelitian, misalnya, bisa digunakan untuk memeriksa benarkah Nabi Adam ada dan tingginya 27 meter, apakah Musa adalah tokoh sejarah atau tokoh fiksi (sudah banyak kajian tentang Musa), apakah dunia ini disangga kura-kura, apakah benar Tuhan membuat bintang-bintang di langit sebagai alat pelempar setan, dan lain-lain.

Beberapa cerita dalam kitab suci memang cocok dipahami dengan nalar fiksi. Misalnya, banjir di masa Nuh. Di luar pendapat para ilmuwan bahwa kisah banjir Nuh adalah jiplakan dari cerita banjir besar dalam puisi wiracarita Gilgamesh dari Mesopotamia kuno, beberapa detail bisa kita bicarakan. Nabi Nuh memasuki bahtera pada usia 600 tahun—sudah tua sekali—dan ia menjadi kapten kapal selama kurang lebih setahun, dengan rincian sebagai berikut: hujan deras turun 40 hari, air terus naik selama 110 hari, menyurut 74 hari berikutnya, 40 hari kemudian Nuh melepaskan burung gagak, 7 hari kemudian Nuh melepaskan merpati, 7 hari kemudian merpati lagi, 7 hari kemudian merpati ketiga dilepaskan, 29 hari kemudian tingkap bahtera dibuka, 57 hari kemudian bumi kering.

Lelaki sangat tua, memimpin pelayaran yang mengangkut anggota keluarganya dan hewan-hewan, jinak maupun buas, dari seluruh dunia dalam waktu satu tahun. Alquran menyebutnya beranak empat, yaitu Syam, Ham, Yafith, dan Kan’an—istri dan anak terakhirnya menolak masuk bahtera. Alkitab menyebutnya beranak tiga, tanpa Kan’an, dan semuanya—istri, ketiga anak lelaki, dan ketiga menantunya ikut berlayar. Bagaimana Nuh yang sudah sangat tua itu mengendalikan hewan-hewan itu dan memberi makan dirinya sendiri dan keluarganya dan semua hewan selama setahun di dalam bahtera?


Hanya iman yang bisa menerima kejadian seperti ini faktual dan menganggapnya sebagai peristiwa sejarah. Di luar iman, kejadian begini, dan banyak kejadian ajaib lainnya, hanya bisa didekati dengan nalar fiksi. Memang di dalam fiksi-fiksi petualangan, baik novel maupun film, kita jarang disuguhi adegan makan dan para pembaca fiksi umumnya memang tidak peduli bagaimana tokoh-tokoh cerita itu makan.

Orang bisa melakukan pengujian terhadap peristiwa-peristiwa di dalam kitab suci, dan memang beberapa sudah dilakukan, dan dengan itu mereka dapat menyimpulkan apakah ia fakta atau fiksi. Justru dengan melakukan pengujian terhadap apa-apa yang dipercaya pernah terjadi, kita bisa membuat spekulasi yang lebih meyakinkan mengenai apa-apa yang belum terjadi, misalnya tentang surga dan neraka: apakah ia bakal terjadi atau itu semua hanya fiksi.

Tidak tepat menyatakan sebuah buku sebagai fiksi karena yang disampaikannya belum terjadi dan belum ada. Sebuah fiksi akan selamanya fiksi, meskipun hal-hal yang dilukiskannya tentang masa depan nantinya menjadi kenyataan. Novel Star Trekadalah fiksi meski beberapa khayalan di dalamnya sekarang sudah bisa diwujudkan.


Fiksi, Fakta, dan Realitas


Selain tiga hal di atas, ada satu lagi yang menarik dibahas, yaitu mengenai fiksi dan realitas. Rocky menyebut lawan dari fiksi adalah realitas, bukan fakta. Saya lebih memilih fakta sebagai lawan dari fiksi. Fiksi adalah rekaan atau produk imajinasi, fakta adalah segala sesuatu yang diketahui telah terjadi atau ada dan bisa dibuktikan.

Realitas, yang dalam kamus besar diartikan sebagai kenyataan, sampai sekarang tetap rumit dijelaskan karena manusia menjalani hidup dengan pikiran. Sebagai anggota masyarakat, manusia mengenal realitas kolektif. Sebagai individu, manusia mengenal realitas individual. Sebagai makhluk berpikir, manusia mengenal realitas yang dikonstruksikan oleh pikiran, melalui cerita-cerita—melalui fiksi. Semuanya merupakan realitas subjektif.

Banyak yang kita pahami sebagai realitas bermula dari fiksi. Dalam hal ini, fiksi bisa membentuk realitas atau mengubah cara kita memahami realitas. Yang tidak bisa dilakukan oleh fiksi adalah membentuk atau mengubah fakta. 


Gunung Tangkuban Perahu adalah fakta. Ia masih bercokol di tempatnya dan memiliki bentuk yang membuatnya dinamai Tangkuban Perahu. Fiksi Sangkuriang memberi tahu kita bagaimana asal-usul gunung tersebut dan kenapa bentuknya seperti itu, namun ia tidak bisa mengubah fakta-fakta geologis tentang Tangkuban Perahu dan fenomena alam yang membentuknya.

Sebaliknya, cinta adalah fiksi; ia produk imajinasi manusia. Hewan-hewan tidak mengenal cinta. Mereka melakukan hubungan seks, memikat lawan jenis, tetapi mereka melakukannya secara naluriah dan bukan karena cinta. Tidak ada cinta di dunia hewan sebab mereka tidak membuat karangan.

Dalam kehidupan manusia, apakah cinta itu ada? Bagi kebanyakan orang, ia ada; bagi sebagian orang, karena pengalaman hidup mereka, cinta tidak ada. Secara umum orang akan menganggap Anda bermasalah jika berpandangan cinta tidak ada, dan mereka akan membawa Anda ke terapis untuk menjalani proses penyembuhan.

Namun, jika cinta itu benar-benar ada, seperti apa bentuknya dan mulai kapan manusia mengenalnya? Para arkeolog bisa menemukan artefak-artefak dan menyusun cerita tentang kehidupan dua juta tahun lalu, tetapi tidak pernah mereka menemukan, misalnya, pecahan kapak batu atau cuwilan tulang rahang dan berteriak: “Eureka! Kami berhasil menemukan bukti-bukti tentang asal-usul cinta.”

Tidak ada artefak cinta. Fiksi bisa menciptakan realitas tentang cinta, tetapi tidak menciptakan fakta tentang keberadaannya.


Ada banyak hal lain yang bisa dicontohkan tentang hasil karangan manusia yang kemudian menjadi “ada” di dalam kehidupan manusia, namun tetap tidak ada di dalam kehidupan hewan-hewan. Hak asasi, demokrasi, dan uang tidak pernah ada di dalam dunia hewan, sebab mereka tidak mengarang fiksi tentang itu semua. Mereka juga tidak membuat cerita tentang drakula, hantu pocong, jin, iblis penggoda, ritual korban untuk dewa, surga dan neraka, kehidupan abadi setelah mati, dan sebagainya. Semua itu bukan realitas bagi hewan-hewan.

Hewan-hewan memiliki bahasa (setidaknya saya pernah membaca tulisan tentang bahasa beberapa jenis hewan) dan berkomunikasi dengan bahasa mereka, tetapi mereka tidak bercerita atau bergunjing dan tidak menciptakan fiksi. Manusia yang membuat karangan tentang mereka.

Manusia membuat cerita bahwa hewan-hewan menyembah tuhan. Bukan hanya hewan-hewan, manusia juga mengarang bahwa gunung dan laut dan segala yang ada di langit dan di bumi memuji kebesaran tuhan. Jika fiksi semacam itu diikuti secara konsisten, kita bisa mengatakan bahwa aktivitas manusia merubuhkan gunung-gunung atau menebangi pohon-pohon dan melakukan penggundulan hutan adalah aktivitas yang sangat berdosa dan layak mendapatkan neraka; mereka membasmi makhluk-makhluk dan benda-benda saleh, yang sepanjang hidup hanya memuji kebesaran tuhan.


Homo Sapiens di Antara Fiksi dan Kitab Suci


Ada pernyataan Rocky Gerung dalam forum itu yang saya sangat sepakati, ialah: “Kita hidup lebih banyak di dalam fiksi.” Dan, dengan meminjam gema dan fraseologi kitab suci, saya ingin menambahkan: “Demikianlah disampaikan kepadamu agar kamu mengerti.”

Hanya saja, urusannya di sini bukanlah mengerti atau tidak. Pernyataan bahwa kitab suci adalah fiksi akan berbenturan secara keras dengan iman. Ia mengandung implikasi sangat serius, yang bisa diwakili secara akurat oleh komentar ini: “Lo mau kitab suci lo disebut fiksi?”

Jadi, urusannya di sini adalah mau atau tidak. Dan sudah pasti mereka tidak mau, sebab membenarkan pendapat bahwa kitab suci itu fiksi berarti melucuti kesakralan kitab suci. Kitab suci menjadi boleh diperlakukan sebagaimana perlakuan atas bentuk-bentuk fiksi lainnya: boleh dibaca boleh tidak, boleh dipercaya boleh tidak, boleh diikuti boleh tidak, dan klaim kebenarannya boleh pula diragukan.

Iman kepada Tuhan dan hal-hal gaib tiba-tiba kehilangan tempat berpijak dan hidup menjadi tidak sederhana lagi. Jauh lebih sederhana seperti sekarang, meyakini bahwa Tuhan itu ada dan maha segala-galanya dan pasti membalas semua kebajikan—jika tidak di dunia pastilah di akhirat. Karena itu akhirat harus ada. Tuhan juga menghukum pelaku kejahatan, jika tidak di dunia pasti di akhirat. Maka, neraka harus ada; di sana nanti orang-orang jahat akan dibakar dan mendapatkan kepedihan yang kekal.

Jika Anda memilih meyakini Tuhan tidak ada, surga dan neraka hanya karangan, Anda harus memeras pikiran untuk menciptakan landasan baru, cerita-cerita baru, yang mendorong orang berbuat baik meskipun surga dan neraka tak ada dan setelah mati nanti manusia hanya akan menjadi rabuk bagi tumbuh-tumbuhan.

Jadi, sekali lagi: “Lo mau kitab suci lo dianggap fiksi?”

Saya tidak begitu yakin komentar ini ditulis oleh seseorang yang sangat saleh, tetapi saya yakin sekali bahwa orang itu tidak mengerti fiksi. Ia tidak tahu bahwa fiksi adalah kekuatan utama spesies homo sapiens. Homo sapiens mengarang banyak fiksi, di antaranya tentang cita-cita bersama, musuh bersama, bahaya laten, dan sebagainya. Karena itu mereka bisa berhimpun dan bekerjasama, menjadi penguasa di bumi, dan mulai menjelajahi ruang angkasa. 

Hewan-hewan tidak bercerita dan tidak menciptakan fiksi; mereka tidak mampu merumuskan cita-cita bersama. Banyak dari mereka sudah punah sekarang, sebagian terancam punah, beberapa menjadi tontonan di bonbin atau menghuni botol di laboratorium. Sebab mereka tidak menciptakan fiksi.

Saya sudah menyampaikan keberatan terhadap beberapa alasan Rocky, juga sudah menyampaikan mana pernyataannya yang saya sepakati, sekarang saya ingin menyinggung sedikit pelaporan terhadapnya ke kepolisian. 

Melaporkan pernyataannya sebagai ujaran kebencian adalah tindakan yang keliru dan tidak relevan. Ia adalah pernyataan seseorang, yang memiliki latar belakang keilmuan di bidang yang ditekuninya, dan bisa diuji kebenaran atau kekeliruannya melalui hukum-hukum ilmu pengetahuan. Ada ilmu yang bisa dijadikan sandaran untuk urusan itu, ada metodologi untuk memeriksanya, ada nalar yang bekerja di belakang pernyataan itu. Dan itu bukan urusan polisi.

Kalaupun polisi tetap menangani perkara ini dan pengadilan nanti memutuskan Rocky bersalah, saya pikir hukuman yang paling tepat adalah memberinya kesempatan untuk membuktikan, dengan metodologi ilmiah, apakah pernyataannya benar atau tidak benar.

Mungkin orang-orang beriman tetap tidak bisa menerima penjelasan saintifik; itu masalah lama dan masih akan lama: sains vs. agama. Keduanya sama-sama berupaya memahami dunia, alam semesta, dan kehidupan, namun mereka menempuh jalan yang berseberangan. Sains bisa keliru dan para ilmuwan bisa mengakui kekeliruan dan terus melakukan revisi dengan berbagai riset dan penelitian. Agama tidak akan pernah membuka diri terhadap kemungkinan keliru. Dari sisi itu, keduanya tidak mungkin kompatibel.


*AS Laksana, Esais dan penulis fiksi, tinggal di Jakarta
*Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera

Sumber: Tirto.Id 

Selasa, 20 Februari 2018

Ganja Dinobatkan sebagai Tanaman Obat Tahun 2018 di Austria

20.02.2018



Austria menobatkan ganja sebagai tanaman obat tahun 2018. Di bidang medis, tanaman ini dimanfaatkan untuk pengobatan kanker, pereda nyeri dan relaksasi otot.

Herbal Medicinal Products Platform Austria (HMPPA), sebuah jaringan ilmiah di bidang obat-obatan herbal, memilih ganja sebagai tanaman obat tahun 2018. Terpilihnya tanaman ganja berdasarkan berbagai kriteria, diantaranya studi terbaru, kepentingan ekonomi dan hubungannya dengan Austria.
Untuk pengobatan, ekstrak tanaman ini dapat dibeli secara legal di Austria. Begitu pula di Belgia, Belanda, Spanyol, Italia, Finlandia, Portugal, Republik Cheska, Israel, Kanada, Selandia Baru, Inggris dan 20 negara AS, ganja atau zat aktifnya dapat digunakan secara medis.
Ganja dikenal sebagai tanaman memabukkan dan juga memiliki manfaat medis. Ganja mengandung lebih dari 400 unsur yang saat ini masih diteliti. Penelitian terutama difokuskan pada dua zat aktif, yakni THC dan CBD.
Senyawa obat psikoaktif THC (tetrahydrocannabinol) digunakan dalam pengobatan kanker. THC terbukti membantu melawan mual dan meningkatkan nafsu makan (misalnya untuk anoreksia). Selain itu, THC bisa menghilangkan rasa sakit dan mengendurkan otot. Ganja telah digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 1990an melawan spastisitas dan multiple sclerosis.
Unsur lainnya yang hampir sama sekali psikoaktif,  cannabidiol (CBD), membantu epilepsi dan skizofrenia anak usia dini. Selain itu, CBD juga digunakan dalam transplantasi sumsum tulang, jika terjadi reaksi donor-ke-penerima. Pada tahun 2019, obat pertama dengan bahan aktif CBD akan diluncurkan di pasar Austria.
Baru-baru ini, sebuah studi oleh Universitas Bonn dan Universitas Ibrani di Yerusalem telah membuktikan bahwa THC dalam jumlah kecil bisa memperlambat proses penuaan otak.
Menurut World Drug Report 2017, sekitar 183 juta orang di seluruh dunia menggunakan ganja. Dan di Jerman, ganja merupakan narkoba terlarang yang paling sering digunakan.  Negara-negara ekspor utama obat ganja adalah Maroko dan Afghanistan.
Sumber: DW.Com 

Selasa, 13 Februari 2018

Filosofi Kehidupan Bersahaja Adik Pramoedya Ananta Toer

13 Feb 2018, 03:01 WIB




Kudus - Banyak orang mengenal Pramoedya Ananta Toer, penulis ternama asal Blora. Namun, tidak dengan adiknya, Soesilo Toer, seorang doktor ekonomi politik lulusan Rusia. Kisah hidup Soesilo cukup menarik diceritakan karena sang doktor ini justru memilih hidup sangat bersahaja sebagai pemulung sampah.
Malam itu pukul 19.23 WIB, saat sebagian besar orang beristirahat bersama keluarga, Soesilo Toer siap dengan dua keranjangnya di atas motor. Adik Pramoedya Ananta Toer itu bersiap memulung sampah.
Saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Kudus, dia sudah berada di atas motor bututnya. Dia mengenakan celana krem, kaus, dan jaket hitam.
Di keremangan malam itu, kelihatan pakaiannya sudah lusuh. Helm cakil (helm dengan lingkaran bawah sampai dagu) yang menutup kepalanya juga kelihatan kotor. Greng, reng, reng, reng... Soesilo melesat meninggalkan rumahnya di Jalan Sumbawa, Kauman, Blora.
Tujuan pertama Jalan Mister Iskandar. Sekitar 100 meter dari rumahnya. "Beberapa hari lalu ada orang meninggal. Saya sudah tunggu sampahnya. Ternyata malam ini baru dibuang," ujarnya ketika berhenti.
Ada keranjang sampah di depan rumah warga kelihatan penuh. Bungkusan-bungkusan tas plastik hitam berserakan.
"Wah dapat kardus," pekiknya. Mata lelaki itu berbinar. Tertuju pada kardus bekas yang bersandar di pagar dekat keranjang sampah. Dia pungut kardus itu, lantas memeluknya erat-erat. Baginya kardus bekas pembungkus kulkas itu adalah rezeki nomplok.
Dia masukkan kardus itu ke dalam keranjang di motornya. Mula-mula, dia meletakkan kardus itu di keranjang kanan. Ternyata terlalu tinggi. Lantas dia meletakkan di bagian tengah. Namun tidak jadi. Takut terjatuh. Bebebapa saat kemudian, dia melipat kardusnya. "Begini saja," kata adik Pramoedya Ananta Toer ini setelah memastikan kardus itu tidak akan jatuh.
Sumber: M.Liputan6 

Jumat, 12 Januari 2018

Asal-usul Pangeran Samber Nyawa


Sumber-sumber Jawa primer menyingkap di balik julukan menggetarkan yang disandang salah satu pemimpin militer paling berbakat dan berpengalaman sepanjang sejarah Jawa.


Lukisan Perang Jawa (1741-1743). 
Foto

RADEN Mas Said atau Pangeran Mangkunagara I, pahlawan nasional Indonesia, punya julukan legendaris: Pangeran Samber Nyawa. Dulu, saya membayangkan julukan itu mungkin berasal dari salah satu peristiwa penuh kekuatan gaib. Ternyata tidak.

Di antara tokoh-tokoh Jawa terkemuka pada abad ke-18, ada dua yang legendaris: Pangeran Mangkubumi yang menjadi Sultan Yogyakarta Hamengkubuwana I (bertahta 1749-1792) dan Pangeran Mangkunagara I (1726-1795), pendiri Pura Mangkunagaran di Surakarta pada 1757. Di era penuh konflik dan perang saudara yang sangat berdarah, kedua tokoh itu menonjol sebagai pemimpin yang luar biasa.

Mangkunagara memihak kaum pemberontak sejak 1740 (waktu berumur 14 tahun) dan terus berjuang hingga tahun 1757 (umur 31 tahun). Musuh-musuh utama pada awalnya adalah Susuhunan Pakubuwana II (bertahta 1726-1749) dan Kompeni Belanda (VOC).

Semula Mangkubumi menentang Mangkunagara. Sesudah Mangkubumi sendiri memberontak tahun 1746, mereka bersekutu melawan Keraton Surakarta dan VOC. Mangkubumi adalah pemimpin senior, sedangkan Mangkunagara memainkan peranan sebagai panglima besarnya (senapati). Jelas bahwa Mangkunagara merupakan salah satu pemimpin militer paling berbakat dan berpengalaman sepanjang sejarah Jawa. Pengikut loyal dan pengagumnya sangat banyak.

Dua pangeran bergabung merupakan kekuatan paling besar dan berbahaya yang pernah dihadapi Kompeni Belanda di Jawa. Selama “Perang Suksesi Jawa III”, tanah dan rakyat Jawa sangat dirugikan. Tapi, pada 1752-1753, dua Pangeran itu berpisah dan berperang satu sama lain.

Perpecahan itu melahirkan situasi baru yang menguntungkan VOC. Namun pada akhirnya Kompeni mengakui tak mungkin menang dalam perang saudara yang semakin rumit itu. Taruhannya, dana dan korban jiwa sangat tinggi, baik bagi orang Jawa maupun orang Eropa dalam tentara VOC. Alhasil, pada 1755, dalam Perjanjian Giyanti, pihak Belanda menyetujui tuntutan-tuntuan Mangkubumi untuk membagi kerajaan Jawa menjadi dua: Surakarta dan Yogyakarta.

Sejak itu, Mangkunagara ditinggalkan tanpa sekutu yang berarti dan menghadapi situasi berbahaya. Tapi Sang Pangeran terus berperang.
Dari tahun 1755 sampai 1757, dengan berakhirnya perang antara keraton Surakarta dan Mangkubumi, kerajaan Surakarta mulai menjadi lebih makmur. Tapi Susuhunan Pakubuwana III (baru berumur 25 dan hampir tanpa pengalaman perang) harus mengakui kelemahannya dibandingkan pamannya, Sultan Mangkubumi, di Yogyakarta (yang berumur 40 dan sangat berpengalaman). Jadi, dia mengundang Mangkunagara (berumur 31 dan seorang prawira terkemuka) untuk berdamai dan berdomisili di Surakarta demi memperkuat kerajaannya. Alhasil, Mangkunagara masuk Surakarta, melepaskan kehidupan perang dan menjadi seorang Pangeran Miji –seorang pangeran yang lebih tinggi derajatnya daripada semua pangeran lain.

Kompeni Belanda setuju dengan perdamaian itu: mereka sudah mengakui bahwa tak mungkin mencapai tujuan utamanya, yaitu membunuh Mangkunagara. Sultan Mangkubumi marah atas perdamaian antara keraton Surakarta, Mangkunagara, dan pihak Belanda, tapi dia harus menyesuaikan diri.

Selama hidupnya di Surakarta, Pangeran Mangkunagara –yang boleh kita sekarang namakan Pangeran Mangkunagara I, pendiri pura dan trah (keturunan) Mangkunagaran– menghadapi situasi-situasi baru. Kehidupan damai sangat asing baginya.

Selama hidupnya, sejauh bisa diketahui dari sumber-sumber dari zaman Mangkunagara I sendiri –baik dalam bahasa Jawa maupun Belanda– dia tak pernah dinamakan Pangeran Samber Nyawa. Baru sesudah wafatnya, sebutan itu mulai digunakan. Jadi, dari mana sebutan Pangeran Samber Nyawa itu?

Panji Perang

Berbasis sumber-sumber Jawa primer, sekarang kita bisa menjawab pertanyaan itu. Pertama kita harus mengerti apa arti “samber nyawa”. Kata samber dalam bahasa Jawa sama artinya dengan “sambar” dalam bahasa Indonesia. 
Kata nyawa dalam bahasa Jawa sama artinya dengan kata yang sama dalam bahasa Indonesia. Jadi, samber nyawa berarti seorang atau sesuatu yang menyambar dan menangkap sesuatu, seperti burung elang menyambar anak ayam atau seorang nelayan menyambar ikan dengan jala. Namun, dalam kasus ini, yang disambar adalah nyawa.

Istilah samber nyawa muncul dalam dua sumber primer yang luar biasa dari zaman Pangeran Mangkunagara. Yang pertama, otobiografi yang disusun Sang Pangeran sendiri –otobiografi dalam bahasa Jawa paling kuno yang diketahui sampai sekarang. Judulnya Serat Babad Pakunagaran. Judul itu merefleksikan variasi yang lazim mengenai nama-nama Jawa waktu itu: Mangkunagara kadang ditulis Pakunagara, Gunung Merbabu pernah dinamakan Gunung Prababu, dan sebagainya.

Naskah Serat Babad Pakunagaran menyebut secara jelas bahwa Mangkunagara I-lah yang menulis sesudah dia berdamai dan kembali ke Surakarta, yaitu tahun 1757: ingkang murwa carita, Kangjeng Pangeran Dipati, ingkang saking lalana andon ayuda.

Salinan naskah itu masih tersimpan di British Library, London, tapi bukan yang tahun 1757, melainkan salinan yang dibuat untuk merayakan ulang tahun ke-55 Sang Pangeran pada bulan Ruwah tahun Jawa 1705 (17 Augustus 1779). Juga ada fragmen kecil yang tersimpan di Perpustakaan Radyapustaka di Surakarta, tertanggal bulan Sawal, tahun Jawa 1719 (Mei-Juni 1793). Keduanya jelas disalin oleh beberapa prajurit perempuan (prajurit estri) dalam Pura Mangkunagaran. Sumber ini ditulis dalam tembang macapat dan cukup tebal –lebih dari 800 halaman.

Di bagian Serat Babad Pakunagaran yang meriwayatkan tahun 1750, di tengah-tengah perang di Gondang, dekat Surakarta, kita menemukan deskripsi panji perang Mangkunagara: bandera wulung kakasih, pun Samber Nyawa, ciri wulan aputih; sebuah panji perang berwarna wulung, namanya Samber Nyawa, dan berciri bulan berwarna putih (hampir pasti bulan sabit). Jadi, jelaslah nama “Samber Nyawa” berasal dari panji perang Sang Pangeran.

Pada era itu lazim tokoh-tokoh pemimpin punya panji perang yang diberikan nama. Misalnya, panji perang Pangeran Mangkubumi bernama Gula Kalapa. Prawira terkemuka Rongga Prawiradirja punya panji yang namanya Geniroga (api penyakit) dengan gambar seekor monyet yang berwarna wulung.

Dalam sumber primer lain, kita sekali lagi menemukan panji Samber Nyawa. Ini semacam campuran antara buku harian dan babad. Sekali lagi ini merupakan inovasi dalam kesusasteraan Jawa: buku harian paling kuno yang diketahui. 
Masih terdapat beberapa naskah yang diberi judul berbeda-beda: Babad Tutur, Babad Nitik Mangkunagaran, dan Babad Nitik Samber Nyawa, yang meliputi tahun 1780 sampai 1793. Naskah-naskah ini disimpan di perpustakaan Leiden, Mangkunagaran, Museum Radyapustaka, dan Museum Sonobudoyo. Penulisnya tak diketahui, tapi jelas buku itu disalin prajurit estridalam Pura Mangkunagaran.

Pada bagian Babad Tutur yang tertanggal 15 Oktober 1791, kita membaca kenang-kenangan (oleh Mangunagara I sendiri?) mengenai kehidupan Sang Pangeran sebelum tahun 1757, saat masih berperang. Panji perang Samber Nyawa dideskripsikan: bandera denarani, pun Samber Nyawa ranipun, mila ran Samber Nyawa, pilih kang tahan nadhani, yen anamber kang mengsah kathah kang pejah /0/ yen langkung ageng kang mengsah, m[a]ring wana ngardi ngo[n]cati, yen sedheng mengsah kapisah, sinamber saking ing wukir, mengsah kagyat keh mati, lamun dengengi kang mungsuh, ngo[n]cati dhateng wana, Jeng Gusti Pangran Dipati, kang bandera mila ran pun Samber Nyawa.

Terjemahannya: Panji perang Samber Nyawa namanya, dinamakan Samber Nyawa karena jarang orang bisa bertahan. Kalau menyambar, banyak musuh yang mati. /0/ Kalau musuh terlalu banyak, [Mangkunagara] melarikan diri ke hutan di gunung. Kalau jumlah musuhnya yang terpisah sedang, mereka disambar dari puncak gunung. Musuh terkejut karena banyak dari mereka yang mati, kalau musuh dijumlahkan. [Mangkunagara] sudah melarikan diri ke hutan di gunung. Karena itulah panji perang Sang Pangeran Adipati [Mangkunagara] dinamakan Samber Nyawa.

Berperang Laksana Macan

Panji perang Samber Nyawa termasyhur di kalangan orang Jawa saat Mangkunagara masih berperang, dan merupakan objek yang bisa bikin keder musuh-musuhnya. Malahan, panji perang itu dianggap punya kekuatan luar biasa.

Salah satu peristiwa yang berhubungan dengan panji perang itu diceritakan dalam sumber Jawa maupun Belanda. Peristiwa itu terjadi pada Oktober 1756. Pada paruh kedua tahun 1756, situasi Mangkunagara semakin memprihatinkan. Bersama sisa pengikutnya yang masih loyal, berjumlah tidak lebih dari 400 prajurit, dan keluarganya, dia siap membela diri di daerah pegunungan di Kaduwang. Para musuhnya –Sultan Mangkubumi, Susuhunan Pakubuwana III, dan Kompeni Belanda– mengepungnya dengan menutup semua jalan. Sultan Mangkubumi, seorang perwira yang juga amat masyur, memimpin tentaranya sendiri.

Dalam kondisi terjepit, nasib Mangkunagara amat suram. Penasehat utamanya, Kudanawarsa, yang sedang terluka, sangat takut akan masa depannya.

Namun Sang Pangeran memilih sebuah jalan yang tak diketahui orang lain (dengan mengikuti burung-burung gagak yang sepertinya menjadi pemimpin gaibnya). Dia pun bisa meloloskan diri dari kepungan musuh tanpa diketahui mereka.

Dari daerah pegunungan, dia bergerak ke Desa Giyanti, tempat persetujuan antara Mangkubumi dan VOC pada 1755, dan membakarnya. Dari sana mereka mendekati daerah Mataram. Kudanawarsa dan para prajurit, yang masih diselimuti ketakutan, menekankan situasinya amat berbahaya dan mendorong Mangkunagara untuk mundur. Namun, dicatat dalam otobiografi Serat Babad Pakunagaran, Sang Pangeran dengan tegas menjawab: “Walaupun saya mati, kalau sudah menemui ajal, jangan jauh dari Mataram, tempat pemakaman para leluhur saya. Mari kita bersama jangan menghitung mati, serahkan diri kepada Allah, mari kita masuk api!” (sanadyan aku matiya, yen wus tumekeng jangji, aja doh Mataram, dagane luhur ingwang, payo padha derah pati, asrah ing Allah, payo alebu gni).

Pada 28 Oktober 1756, dengan 300 pasukan kuda andalannya, Mangkunagara keluar di jalan dari Prambanan ke Yogyakarta. Saat itu, Yogyakarta hanya dijaga sedikit tentara, karena kebanyakan tentara kasultanan yang dipimpin Sri Sultan dan kekuatan VOC masih berada di daerah Kaduwang untuk mencari Mangkunagara.

Mangkunagara dan para pasukannya belum mengibarkan panji perang. Mereka bertemu beberapa remaja dengan kerbau di jalan. Sepuluh kerbau diambil dan digembalakan di depan mereka. Melihat mereka sedang mendekati keraton kasultanan, masyarakat menyangka mereka serdadu Yogyakarta yang pulang dari medan perang dengan rampasannya.

Saat itu, seorang bupati senior bernama Cakrakarti (atau Cakrajaya) sedang main kartu dengan orang Belanda di loji Kompeni. Seorang serdadu penjaga Eropa melihat ada kelompok pasukan yang mendekati dan masuk loji untuk bertanya apakah Sri Sultan dan Pangeran Mahkota sudah pulang dari medan perang. Cakrakarti keluar untuk melihat siapa yang memasuki kota.

Sekonyong-konyong Mangkunagara membentangkan panjinya (yang tidak dinamakan dalam sumber-sumber kita, tapi pasti Samber Nyawa). Cakrakarti terkejut begitu mengenali itu bukan panji dari pihak Yogyakarta!

Mangkunagara dan pasukannya langsung menyerang keraton baru Sri Sultan yang terbuat dari kayu. Mereka lalu bergerak ke selatan keraton, ke kediaman Bupati Distrik Mataram Raden Adipati Jayaningrat. Sang Bupati sedang minum teh dengan Tumenggung Sindusastra, kepala para pujangga kasultanan. Pihak Mangkunagara melepaskan tembakan. Kedua tokoh senior itu berusaha meloloskan diri lewat kebun namun gagal; Sindusastra ditangkap dan dibunuh sedangkan Jayaningrat terluka.

Di mana-mana, di keliling keraton, muncul kepanikan. Di gardu alun-alun kidulhanya ada 18 serdadu Kompeni. Mereka melepaskan dua salvo sebelum terpaksa kabur ke dalam keraton dan mengunci pintu selatannya. Mangkunagara mengejar. Menurut salah satu sumber Belanda, Mangkunara dan pasukannya berperang “seperti macan”.

Akhirnya Kompeni menembaki para penyerbu dengan meriam dari dinding loji. Mangkunagara pun memerintahkan mundur melalui jalan ke Prambanan.
Sebagian dari keraton terbakar dan sejumlah orang tewas. Menurut sumber Belanda, Mangkunagara kehilangan 30 prawira dalam serangan itu dan melarikan diri secara panik. Namun menurut Serat Babad Pakunagaran, mereka mundur secara teratur dan Sang Pangeran memandang tembakan meriam dari loji Kompeni sebagai semacam salut terhadapnya.

Sri Sultan Mangkubumi sangat marah. Dia sekali lagi ditipu oleh Mangkunagara, yang berhasil meloloskan diri dari kepungan di Kaduwang, memasuki keraton Yogyakarta tanpa perlawanan, membunuh dan membakar, serta pergi bersama sebagian besar tentaranya –dan tentu saja dengan membawa panji perang Samber Nyawa yang tersohor. Kendati beberapa bulan sesudah itu Sang Pangeran berdamai di Surakarta, Sri Sultan tetap marah kepadanya.

Anumerta

Pada 28 Desember 1795 (atau Senen-Pon, 16 Jumadilakir, windu Adi, wuku Pahang, mongsa Kapitu, tahun Jimakir 1722), Pangeran Mangkunagara I wafat di dalemnya di Surakarta. Dia dimakamkan di Mangadeg, di lereng Gunung Lawu.

Sesudah wafat, raja-raja Jawa dan tokoh-tokoh besar lain diberi sebutan anumerta. Kapan dan bagaimana cara untuk memilih sebutan itu tidaklah jelas. Dalam kasus Mangkunagara I, ada pilihan yang gampang.

Mangkunagara I seorang prawira sejati, yang memiliki karier perang gemilang. Jadi untuk sebutan anumerta dipilih nama objek terkenal, yang mendampinginya dalam perang, dianggap memiliki kekuatan gaib, dan dikenal di seluruh Jawa –baik oleh pengikut-pengikut Sang Pangeran maupun musuh-musuhnya– sebagai tanda pribadi tokoh luar biasa ini. Panji perangnya bernama Samber Nyawa. Dengan demikian, Pangeran Mangkunagara I almarhum menjadi Pangeran Samber Nyawa. Nama itu menjadi legendaris dan tetap termasyur sampai sekarang; 222 tahun sesudah wafatnya Pangeran Mangkunagara I.

*M.C. Ricklefs, Penulis adalah profesor emeritus di Australian National University dan penulis banyak artikel maupun buku mengenai sejarah Indonesia. Buku terbarunya, biografi Pangeran Mangkunagara I berjudul Soul Catcher: Java’s fiery prince Mangkunagara I, 1726-1795 akan diterbitkan tahun 2018. Edisi bahasa Indonesia sedang direncanakan.

Sumber: Historia

Kamis, 11 Januari 2018

Tukliwon, Pelaut Indonesia yang Melawan Belanda di Australia

Oleh: Petrik Matanasi - 11 Januari 2018

Sekretaris Federal Buruh Pelaut Austrailia EV Elliot (kedua dari kiri) menyerahkan bendera republik Indonesia kepada Tukliwon (ketiga dari kiri). FOTO/Istimewa

Setelah mengabarkan kemerdekaan Indonesia di Australia, Tukliwon menggerakan buruh-buruh pelabuhan dan pelaut melakukan pemogokan.
Meski umurnya sudah 20, bagi orang Australia dia terlihat seperti remaja 16 tahun. Dia punya nama yang amat "pribumi", sekaligus terkesan ndeso di zaman ini: Tukliwon. Walaupun muda dan terlihat ndeso, Tukliwon bukan sembarang pemuda. Ketika Hindia Belanda runtuh, Tuk sudah jadi pelaut. 

Seperti diungkap Rupert Lockwood dalam Armada Hitam (1983), kaum pelaut Indonesia di Australia berisikan orang-orang malang dengan gaji 3 dolar per bulan yang dikaryakan begitu rupa untuk kepentingan Belanda. Demi mengantar dan menyelamatkan nyawa pecundang-pecundang Ratu Wilhelmina yang ditekuk balatentara Jepang, pelaut-pelaut Indonesia itu harus bertahan tiga puasa tiga lebaran di Australia. Bahkan ketika datang ke Australia, mereka masih berpakaian sarung (hlm. 64-65). 

Tuk dan pelaut lain tinggal di di Woolloomoolloo, pinggiran pantai Sidney. Rupert Lockwood menyebut Tuk belajar bahasa Inggris kepada Nyonya Gwyn William. 
“Teman-teman Australia telah mengusahakan kursus baginya di Kolese Teknik Sidney dan sesudah itu diberi pekerjaan sebagai montir perawatan di kapal-kapal tambangan Pelabuhan Sidney,” tulis Rupert (hlm. 91-92). 
Pada suatu hari di bulan Agustus, Tuk mendengar berita radio yang menggembirakannya di kantor Serikat Pelaut Indonesia (Sarpelindo) di Woolloomoolloo. Berita penting pertama, Jepang sudah menyerah kalah. Dan yang kedua lebih penting lagi: proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah dibacakan. 
Orang-orang Indonesia pelarian itulah, menurut Rupert, “yang mula-mula mendengar siaran dari Batavia mengenai proklamasi Republik pada 17 Agustus. Mereka menari-nari karena girang.” 
Tuk begitu girang. Bahkan ketika dia mendatangi kelas Nyonya Gwyn William di Darlinghurst, dia tak sembunyikan kegirangannya. Tuk adalah Sekretaris Sarpelindo cabang Sidney. Dia punya kepentingan untuk menyebar berita-berita itu, tak hanya pada sesama orang Indonesia, tapi juga kawan-kawan Australianya. 
“Pagi 18 Agustus 1945, dia pergi ke luar kantornya untuk menyebarkan berita gembira itu kepada mitra serikat kerja Australia,” tulis Hersri dalam artikelnya, "The exemplary life of Joris Ivens (1898-1989)", yang dimuat di Inside Indonesia No.22 (Maret 1990). Tuk segera dapat dukungan. Termasuk dari kawan-kawan pelaut dan buruh tepi air Australia. 

Menggerakkan Boikot dan Pemogokan

Seminggu setelah menyebar kabar gembira, Tuk berkabar lagi soal rencana otoritas Belanda di Australia yang hendak membawa pulang pelaut-pelaut Indonesia pulang ke negeri asal. Namun, pelaut-pelaut Indonesia menolak pekerjaan yang diberikan otoritas Belanda, yang terkait dengan Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA). Partai Komunis Australia yang bermarkas di Jalan George, Sidney, tak luput memberi dukungan kepada Tukliwon. E.V. Elliot dari Australian Seamen's Union (Serikat Buruh Laut Australia) salah satunya. 
“Bulan September 1945 Tukliwon didorong oleh Elliot dalam usahanya untuk mengatur boikot terhadap 25 kapal Belanda di Australia begitu mereka dipindah-tugaskan dari tugas perang ke tugas baru mengangkut barang-barang Belanda yang kembali Indonesia. Kedua orang ini lalu meminta dukungan dari Waterside Workers' Federation (Federasi Buruh Dok dan Pelabuhan) di Sydney,” tulis Martin O'Hare dan ‎Anthony Reid dalam Australia dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (1995: 13). 
Pemogokan menjalar. Para buruh yang mogok itu sadar bahwa kapal-kapal Belanda yang berangkat ke Indonesia nantinya akan menyiksa dan menjajah lagi Indonesia. Kapal-kapal itu juga dicurigai memuat senjata dan amunisi. Membiarkannya adalah dosa besar bagi para buruh itu. 

Kapal-kapal Belanda pun tak kunjung berlayar ke Indonesia. Muatan-muatan tertahan. Gerakan pemogokan buruh-buruh Australia, yang mendukung kemerdekaan Indonesia itu, di kemudian haru dikenal sebagai Armada Hitam. 

Film dokumenter karya Joris Ivens, Indonesia Calling (1946), menggambarkan pemogokan itu. Tak hanya kuli angkut, pekerja transportasi mematikan mesin truk mereka, begitu juga tukang cat kapal. Mereka ogah melayani kapal Belanda. 

Tukliwon dan kawan-kawannya, termasuk Max Sekantu, memeriksa kapal-kapal yang tidak jadi berlayar. Di antara sekian kapal, sebuah kapal bernama Swarten yang diawaki orang-orang India sempat lepas jangkar. Namun, pelaut-pelaut India itu juga ikut mogok. Mereka merasa tertipu karena katanya akan ditempatkan di kapal sekutu tapi ternyata ditempatkan di kapal Belanda. Mereka bersimpati pada kemerdekaan Indonesia. 
“Perjuangan mereka adalah perjuangan kami. Kemenangan mereka adalah kemenangan kami,” kata salah satu pelaut India.
Tukliwon, seperti terekam di awal film Ivens, pulang ke Indonesia naik kapal Esperance Bay. Menurut catatan Muhammad Bondan dalam Memoar Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan (2011:90), kapal itu milik Inggris yang dijamin pemerintah Australia untuk mengangkut para pelaut Indonesia pada Oktober 1945. Mereka berjumlah sekitar 1400 orang dan dijamin tidak akan diturunkan di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Belanda. Demi memastikan hal itu, seorang pejabat Australia ikut serta dalam perjalanan. 

Sebelum berlayar pada 13 Oktober 1945, E.V. Elliot ikut mengantar sebagai wakil buruh Australia yang jelas simpatinya pada orang-orang Indonesia. Elliot menyerahkan bendera besar setinggi leher Tukliwon. Hingga hanya sekitar kepala Tukliwon saja yang terlihat. 
“Sebagai sekretaris Federal Perserikatan Buruh Pelaut, atas nama pergerakan buruh Australia, saya berikan bendera ini kepada Anda. Bawalah kembali ke Republik Anda yang baru, sebagai simbol dukungan para pekerja Australia dalam perjuangan kemerdekaan Anda,” kata Elliot. Selesai sambutan singkat itu, Tukliwon dan yang hadir bersorak: “Hip hip hore! Hip hore! Hip hore!” 
Tukliwon pun memberikan sambutan yang juga singkat seperti Elliot. “Teman-teman, atas nama Republik Indonesia, saya mengucapkan terima kasih atas bendera ini. Kami tidak akan melupakan bantuan besar yang diberikan oleh buruh Australia pada awal Republik kami. Saat kami sangat membutuhkan pertolongan,” kata Tukliwon. 
Tukliwon belum selesai. Sambil mengacungkan kepalan tangan naik-turun, dengan semangat penuh, Tukliwon berdoa: “Dan semoga Australia dan Indonesia bersatu selamanya!” Salah seorang hadirin berseru, “Indonesia Merdeka!” dan Tukliwon menirukannya, “Indonesia Merdeka!” Lalu mengulang-ulang lagi “Hip hore!” 

Infografik Tukliwon


Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, Tukliwon sudah menjadi Tuk Subianto. Dia aktif dalam gerakan buruh. Tidak banyak catatan tentangnya. Jika tahun 1945 dia sudah 20 tahun, diperkirakan dia lahir pada 1925. Menurut catatan Oey Hay Djoen, Tukliwon tergolong “seseorang yang berbapak seorang Digulis.” 

Ketika menjadi buruh di dermaga Tanjung Priok, menurut catatan Molly Bondan dalam Molly Bondan: Pengabdian pada Bangsa: Penuturan dalam Kata-katanya Sendiri (2008), dia terlibat dalam pengambilalihan kapal KPM yang berlabuh di Tanjung Priok (hlm. 127). 

Sementara Pewarta Kemlu, Volume 4, Masalah 1-7 (1958:357) menyebut bahwa Tuk Subianto pernah menghadiri Konferensi Maritim ke-41 yang diselenggarakan organisasi buruh PBB (International Labour Organization, ILO) di Jenewa, Swiss, pada 29 April-16 Mei 1958. Ia berangkat ke sana dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Umum Serikat Buruh Pelayaran (hlm. 357). 

Selepas 1965, menurut catatan Rupert Lockwood, sosok Tukliwon alias Tuk Sutrisno tidak pernah muncul. Tak ada kabar sama sekali tentang dirinya.

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Sumber: Tirto.Id

Rabu, 10 Januari 2018

Kulon Progo dan Keblingernya Kebijakan Pemerintah Nasional

 Danang Pamungkas


Kredit foto: Tirto
SEJAK lama saya hanya ingin diam melihat konflik Bandara Internasional di Kulon Progo. Bukannya saya menutup mata terhadap penindasan negara terhadap petani Kulon Progo, namun karena saya bingung mau membantu apa. Jujur di dalam hati saya mendukung perlawanan petani Kulon Progo melawan Kebijakan negara! Namun, mulai hari ini saya bersikap, saya melawan kebijakan penjajahan Pemerintah atas petani Kulon Progo.
Pembangunan infrastruktur NYIA bukan dari kebijakan Gubernur DIY, Atau Bupati Kulon Progo. NYIA adalah kebijakan pembangunan proyek infrastruktur Pemerintahan Jokowi-JK. Dalam APBN 2016, pemerintah merencanakan pembangunan 15 bandara baru, dengan dalih membuat solusi atas kesenjangan ekonomi dan sosial[1]
Sebagai warga negara, sulit bagi saya untuk menerima logika bahwa pembangunan ini untuk memberantas kesenjangan ekonomi dan sosial. Data yang dilansir CNN Indonesia[2] tampak benar bahwa Provinsi DI Yogyakarta merupakan Provinsi dengan ketimpangan ekonomi tertinggi di Indonesia setelah setelah DKI Jakarta. Namun, kalau kita lihat data yang dilansir oleh Majalah Tempo 2017[3], maka kita temukan gambaran sangat mengejutkan:
“Sebanyak 23, 7 juta petani Indonesia hanya memiliki lahan 21,5 Juta hektar. Sementara 2000 Perusahaan perkebunan menguasai 16 juta hektare. Sebanyak 304 perusahaan menguasai 26 juta hektare konsesi hutan. Sedangkan 13, 57 juta petani tidak memiliki lahan alias nol hektare.”
Apa artinya ini? Ternyata salah satu akar dari persoalan ketimpangan tersebut adalah akses pada kepemilikan tanah. Dengan kata lain, tanah merupakan kunci bagi kehidupan dan investasi. Ini terjadi karena Indonesia merupakan negara paling buruk dalam menjalankan industri manufaktur. Selama bertahun-tahun kekuasaan Suharto sampai Pemerintahan Jokowi-JK, tak ada perubahan apapun dalam menjalankan industri berkelanjutan. Indonesia selalu bertumpu pada sektor sumber daya alam mentah dan jasa dalam menjalankan roda perekonomiannya. Mengapa banyak investor menanamkan investasi propertinya di Yogyakarta? Karena mereka adalah bandar yang tak ingin bersaing dengan kapital internasional. Mereka ingin menjadi The Godfather di setiap kapling tanah di Yogyakarta. Sektor properti sekarang ini merupakan sektor yang diproteksi negara secara habis-habisan. Mengapa itu dilindungi? Mudah saja ditebak, karena mereka dekat dengan kekuasaan.
Karya Jeffrey Winters “Oligarki” dan Richard Robison “Suharto dan Pembangunan Kapitalisme di Indonesia” menjelaskan tanpa teding aling-aling bahwa pengusaha kaya raya di Indonesia selalu membutuhkan proteksi negara agar mereka bisa aman dari persaingan internasional dan memburu keuntungan semaksimal mungkin melalui jabatan politik, partai, dan birokrasi[4].
Pertanian di Indonesia merupakan sektor paling penting baik saat ini maupun masa depan. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Artinya, profesi petani merupakan kekuatan utama dalam perekonomian. Dengan proyek infrastruktur yang menjajah dan mengusir petani dari kegiatan pertanian artinya negara sudah keblinger dalam membuat kebijakan. Ketimpangan pemanfaatan lahan membuat petani kesulitan untuk sejahtera[5]. Hal yang seharusnya dilakukan pemerintah bukan membangun bandara untuk kelas menengah-atas, namun mengembangkan ekonomi kreatif dan UMKM yang sering jadi jargon Nawacita.
Mungkin kita terlahir menjadi bangsa yang suka sekali dengan jargon. Seperti jargon Nawacita, Trisakti, Ekonomi Pancasila, entah apapun itu hanya menjadi nyanyian kesenangan semu! Rakyat membutuhkan hal yang konkrit, dan yang konkrit itu apa? Bukan bandara internasional, bukan juga sawit. Rakyat hanya butuh bisa hidup nyaman, tenteram, bisa makan, mampu mencukupi kebutuhan, pendidikan, dan masa depan keluarga. Semua itu tidak akan terealisasikan bila kebijakan ekonomi malah menyingkirkan rakyat.
Petani punya kemerdekaan untuk mengelola lahan dan bebas menjual produknya. Harusnya negara menciptakan kondisi ekonomi yang sehat untuk mendukung sektor pertanian rakyat. Bukan malah membuat kebijakan cetak sawah dan menurunkan militer dalam membantu petani menanam, apalagi sampai melakukan penggusuran. Jangan-jangan rezim saat ini menyukai metode Suharto untuk merampas hak rakyat. Saya berdoa untuk rezim ini agar segera sadar dari ketidakwarasannya.
Terakhir saya ingin mematahkan argumen kelompok yang pro bandara. Dengan cara berhitung sederhana khas rakyat biasa. Begini saja kita hitung-hitungan duit. Berapa gaji yang kamu dapat untuk membeli tanah di Yogyakarta? jika misalnya kamu adalah warga Jogja yang UMR-nya tak lebih dari Rp. 1,5 juta.
Jika seluruh lahan di Indonesia dikuasai oleh pengusaha properti dan Sawit, kita semua ini mau hidup di mana? Bayangkan saja harga tanah di Jogja per meter bisa dijual sampai Rp. 1- 5 juta[6]. Kita ambil saja angka tengahnya, yaitu Rp. 3 juta per meter persegi. Kalikan saja kalau kita ingin membeli rumah sekitar 300 meter persegi, berarti harus merogoh kocek Rp. 900 juta. Itupun tipe rumah mini! Kalau ada inflasi kenaikan harga tanah bisa mencapai 13 persen per bulan, maka harga akan berlipat ganda. Karena ekonomi manufaktur Indonesia itu lesu, maka semua pengusaha berpindah ke ranah ekonomi jasa dan properti macam perhotelan, perumahan, bandara, dan apartemen. Di sini mereka merasa aman lantaran alat produksi tanah bisa terkunci, dan harganya melambung tinggi karena permintaan tanah tidak akan surut. Oleh sebabnya, bagi seluruh rakyat Indonesia yang memiliki tanah, apalagi petani, jangan sampai menjual tanah kepada pengusaha properti/rezim properti!
Ini logika sederhana yang saya pakai untuk menolak semua argumen terkait jargon pemerintah yang “katanya” ingin mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial. Bagaimana pemerintah bisa mengurangi kesenjangan kalau masalah utamanya adalah tanah itu dikuasai oleh konglomerat? Saya pesimis dengan hal ini.
Saya mengkritik pemerintahan Jokowi-Jk karena saya adalah warga negara Indonesia yang sadar bahwa negara ini semakin lama tidak jelas. Masa depan saya sebagai manusia Indonesia terancam karena kelak tidak bisa membeli tanah, karena tanah harganya selangit! Saya katakan hal ini tanpa jargon nasionalisme atau tetek bengeknya. Di dalam konflik agraria seperti sekarang, saya percaya akan muncul dogma agama atau doktrin nasionalisme yang segera didengungkan oleh para broker dan mafia politik yang ingin mendapatkan kue kekuasaan.
Hidup Petani Kulonprogo!
Lawan penjajahan dan penggusuran lahan!
*** 
Penulis adalah penulis lepas di beberapa media online
————-
[1]Percepatan pembangunan infrastruktur yang efektif dan efisien untuk mendukung kegiatan sektor-sektor strategis ekonomi serta mengurangi kesenjangan ekonomi dan spasial. 26 dan 59 lokasi bandar udara yang dikembangkan di daerah perbatasan dan rawan bencana; 15 lokasi bandar udara baru yang dibangun. Sumber; Kementerian Keuangan, Info APBN 2016.
[2]Badan Pusat Statistik (BPS) melansir Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai provinsi yang memiliki ketimpangan tertinggi di Indonesia. Tercatat, per September 2016, rasio gini Yogyakarta yang mencerminkan ketimpangan pengeluaran masyarakat mencapai 0,425. Baca selengkapnya; https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170201154328-92-190589/yogyakarta-punya-ketimpangan-ekonomi-tertinggi-di-indonesia
[3] Baca selengkapnya majalah Tempo Edisi 20-26 Maret. Liputan Khusus Ketimpangan; Kaya Raya Miskin Papa.
[4] Menurut majalah the Economist, dua pertiga kekayaan dari penduduk terkaya Indonesia di dapat dari sektor kroni yang sarat dengan praktek bisnis pemburuan rente. Berdasarkan indeks kapitalisme kroni versi Economist, Inodnesia berada di urutan ke-7 terburuk dari 22 negara yang di survey pada 2016. Baca selengkapnya Majalah Tempo Edisi 20-26 Maret. Liputan Khusus Ketimpangan; Kaya Raya Miskin Papa. Tulisan Faisal Basri; Kesenjangan di Persimpangan Jalan
[5] Setiap satu menit. Satu rumah tangga dan seperempat hektar lahan pertanian hilang di Indonesia. “Itu bukan masalah serius kalau industri mampu menyerap mereka, tapi kenyataannya tidak.” Dikutip dari Ketua Dewan Konsorisum Pembaharuan Agraria Iwan Nurdin, Majalah Tempo Edisi 20-26 Maret 2017; Bertani di Lahan Sempit.

Sumber: Indoprogress