Test Footer 2

Selasa, 13 Februari 2018

Filosofi Kehidupan Bersahaja Adik Pramoedya Ananta Toer

13 Feb 2018, 03:01 WIB




Kudus - Banyak orang mengenal Pramoedya Ananta Toer, penulis ternama asal Blora. Namun, tidak dengan adiknya, Soesilo Toer, seorang doktor ekonomi politik lulusan Rusia. Kisah hidup Soesilo cukup menarik diceritakan karena sang doktor ini justru memilih hidup sangat bersahaja sebagai pemulung sampah.
Malam itu pukul 19.23 WIB, saat sebagian besar orang beristirahat bersama keluarga, Soesilo Toer siap dengan dua keranjangnya di atas motor. Adik Pramoedya Ananta Toer itu bersiap memulung sampah.
Saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Kudus, dia sudah berada di atas motor bututnya. Dia mengenakan celana krem, kaus, dan jaket hitam.
Di keremangan malam itu, kelihatan pakaiannya sudah lusuh. Helm cakil (helm dengan lingkaran bawah sampai dagu) yang menutup kepalanya juga kelihatan kotor. Greng, reng, reng, reng... Soesilo melesat meninggalkan rumahnya di Jalan Sumbawa, Kauman, Blora.
Tujuan pertama Jalan Mister Iskandar. Sekitar 100 meter dari rumahnya. "Beberapa hari lalu ada orang meninggal. Saya sudah tunggu sampahnya. Ternyata malam ini baru dibuang," ujarnya ketika berhenti.
Ada keranjang sampah di depan rumah warga kelihatan penuh. Bungkusan-bungkusan tas plastik hitam berserakan.
"Wah dapat kardus," pekiknya. Mata lelaki itu berbinar. Tertuju pada kardus bekas yang bersandar di pagar dekat keranjang sampah. Dia pungut kardus itu, lantas memeluknya erat-erat. Baginya kardus bekas pembungkus kulkas itu adalah rezeki nomplok.
Dia masukkan kardus itu ke dalam keranjang di motornya. Mula-mula, dia meletakkan kardus itu di keranjang kanan. Ternyata terlalu tinggi. Lantas dia meletakkan di bagian tengah. Namun tidak jadi. Takut terjatuh. Bebebapa saat kemudian, dia melipat kardusnya. "Begini saja," kata adik Pramoedya Ananta Toer ini setelah memastikan kardus itu tidak akan jatuh.
Sumber: M.Liputan6 

0 komentar:

Posting Komentar