Test Footer 2

Sabtu, 27 Februari 2016

PERNYATAAN SIKAP KOMITE BELOKKIRI.FEST “KEMERDEKAAN BEREKSPRESI DISERANG”



BelokKiri.Fest adalah kerja kreatif kebudayaan dan intelektual yang digarap secara kolektif oleh kalangan muda negeri ini. Kerja ini adalah perayaan atas perjalanan sejarah gemilang bangsa kita, sejak kebangkitan semangat kebangsaan hingga perjuangan kemerdekaan melawan kolonialisme yang terjadi lebih dari tujuh dekade silam.
Namun, setengah abad yang lalu, cita-cita dan semangat emansipasi sosial para pendiri Republik itu, sayangnya, telah dihancurkan oleh suatu rezim yang disebut Orde Baru dengan Suharto sebagai panglima tertingginya.
Lebih dari setengah juta manusia dibantai dan jutaan lainnya kehilangan hak-haknya sebagai warga negara Indonesia dan manusia.
Mereka dikucilkan, disiksa, dipenjara tanpa diadili. Ratusan ribu orang diperbudak dalam kamp kerja paksa. Orde baru bukan hanya menginjak-injak hukum. Orde Baru juga menciptakan ‘hukumnya’ sendiri, melancarkan propaganda dan teror dengan membasmi hingga ke akar-akarnya apa yang dalam bahasa universal dunia disebut sebagai kaum Kiri.
Kaum kiri adalah mereka yang mengembangkan suatu posisi kritis terhadap dehumanisasi akibat penghisapan dan penindasan kapitalisme. Kaum kiri juga adalah mereka yang sedia berjuang bagi masa depan seluruh umat manusia yang demokratis dan emansipatoris. Bukan hanya itu. Semua gagasan, pikiran dan perjuangan garda depan yang sesungguhnya merupakan inti dari nasionalisme Indonesia dan perlawanan terhadap kolonialisme pun dibungkam, dilarang, dan dihancurkan oleh rezim Suharto dan antek-anteknya.
Sejarah gemilang perjuangan kemerdekaan Indonesia dan penghancuran terhadap semangat dan cita-cita para pendiri Republik dua dekade kemudian di atas adalah intisari dari buku “Sejarah Gerakan Kiri di Indonesia untuk Pemula”. Hari ini, 27 Februari 2016, kami merencanakan peluncuran buku yang disusul serangkain acara pameran, diskusi, lokakarya, dan pertukaran pengalaman dan gagasan-gagasan kiri.
Karya kolektif ini dengan rendah hati kami persembahkan kepada rakyat Indonesia, kepada kaum muda yang mengemban cita-cita, dan menjadi tumpuan harapan masa depan Indonesia.
Untuk itulah kami memilih Taman Ismail Marsuki, salah satu wahana pendidikan, ekspresi seni dan budaya yang terhormat dan tertua di Jakarta sebagai lokasi penyelenggaraan Festival ini.
Taman Ismail Marzuki kami andaikan sebagai tempat yang bisa mempertemukan mereka-mereka yang punya pikiran dan semangat untuk membangun Indonesia ke depan yang lebih baik. Akan tetapi menjelang acara dibuka, kami tidak memperoleh izin oleh UPT TIM dan Aparat Kepolisian—sebagaimana yang sudah dijelaskan pada kronologi dan siaran pers—sehingga kami terpaksa membatalkan kegiatan tersebut di tempat ini.
Permintaan pembatalan, dengan alasan aturan izin keramaian dan ancaman pembubaran dari kelompok tertentu merupakan dalih yang dikemukakan oleh pihak Kepolisian. Otoritas adminstrasi TIM pun tidak memberikan alasan yang masuk akal, selain izin yang belum kami dapatkan dari Kepolisian. Ancaman dan pelarangan serupa ini bukan pertama kali terjadi. Berbagai acara serupa semakin mentradisi dan menjadi kebiasaan.
Alih-alih menjamin dan melindungi kebebasan berpendapat, khusunya kebebasan bereskpresi yang dijamin Konstitusi, pihak Kepolisian malah membungkam kami dengan berbagai dalih, termasuk ikut mengintimidasi dan tidak mencegah ancaman kekerasan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak menghormati kemerdekaan berpendapat.
Yang juga patut disesalkan adalah sikap UPT TIM. Mereka lebih tunduk pada berbagai aturan yang mengekang dan membatasi kebebasan berpendapat/berekpresi secara tidak sah dan tidak proposional ketimbang menjalankan mandatnya sebagai pengelola suatu lembaga yang seharusnya menjamin hak-hak setiap orang untuk berkesenian dan mengekspresikan serta berpartispasi dalam urusan pendidikan dan kebudayaan. Inilah wajah paling menyedihkan dari para birokrat kesenian.
Kami, seperti suri teladan para pendiri Republik tercinta ini, tidak akan pernah menyerah dan terus berjuang untuk merebut kembali hak-hak dan kemerdekaan yang telah dirampas oleh otoritarianisme Orde Baru selama 32 tahun dan yang kini hendak direnggut kembali. Indonesia tetap ada dan akan menjadi lebih baik karena perlawanan terhadap kezaliman dan kebodohan terus dikumandangkan. Oleh karena itu, sebagaimana sikap banyak kawan-kawan yang tersebar di seluruh pelosok nusantara, kami tetap berlawan. Kami tetap menentang kezaliman dan kebodohan di negeri ini. Berjuang, berjuang, dan berjuang.
Salam Juang,

Komite BelokKiri.Fest

http://belokkirifest.org/2016/02/27/pernyataan-sikap-komite-belokkiri-fest-kemerdekaan-berekspresi-diserang/

https://www.youtube.com/watch?v=oP_vmrHk8Zs&feature=share

0 komentar:

Posting Komentar