Test Footer 2

Kamis, 15 November 2018

Jurnalisme Investigasi


 Dandy Dwi Laksono


Dari 47.000 media di Indonesia, hanya TUJUH yang tergabung dalam IndonesiaLeaks yang melakukan investigasi secara gotong-royong dalam kasus "Buku Merah" KPK yang melibatkan unsur-unsur polisi.

Menurut Dewan Pers, Indonesia adalah negara yang memiliki media terbanyak di dunia, meski konsumsi bukunya (minat baca) hanya satu level lebih baik dari Botswana. Saat ini ada 2.000 media cetak, 674 radio, dan 523 televisi. Sisanya --yang terbanyak--- adalah media online.

Dari tujuh media pemberani yang tergabung dalam IndonesiaLeaks itu, hanya lima yang memublikasikan hasil liputannya. Satu media sudah mengolah namun tidak jadi menayangkan. Satu media yang lain ikut proses peliputan tetapi tidak mengolah dan belakangan justru mundur dari IndonesiaLeaks.

Begitulah. Liputan investigasi tak hanya perkara menyamar, menyelundupkan dokumen, atau memakai kamera tersembunyi. Jauh lebih kompleks dari itu adalah politik media, budaya organisasi, komitmen anggaran, dan terutama nyali industrinya sendiri menghadapi tekanan-tekanan dari berbagai pihak.

Semakin mapan sebuah bisnis media, biasanya justru semakin pelit memproduksi liputan-liputan investigasi. Entah kenapa.
Tapi salah satu penjelasannya adalah, model bisnis media yang terkonglomerasi (hanya dimiliki sekitar 12 kelompok usaha saja), membuat industri berita ini memiliki banyak kaitan dengan perusahaan lain yang juga punya masalah, mulai dari pertambangan, perkebunan, perbankan, perhotelan, properti, retail, sampai rumah sakit, kampus, warung kopi atau taman hiburan.

Itu belum menghitung kaitannya dengan partai politik yang hampir pasti akan ikut menyeret-nyeret ruang redaksinya dalam pusaran kepentingan, terutama jika media itu diisi wartawan-wartawan yang menganggap profesinya sekadar pekerjaan. Tak lebih. Tak ada kaitan dengan empat doktrin klasik media yang melayani informasi, pendidikan, hiburan, dan --terutama-- kontrol sosial.

Konon lagi sampai dikaitkan dengan menyuarakan kepentingan yang lemah, kaum minoritas, hak asasi manusia, lingkungan hidup, atau pemberantasan korupsi seperti yang sedang dikerjakan para jurnalis yang tergabung dalam IndonesiaLeaks.

Buku ini saya tulis tahun 2009 dan diterbitkan oleh grup Mizan. Lalu kini diterbitkan ulang oleh penerbit independen dari Yogyakarta, Penerbit Circa.

Isinya adalah pengalaman wartawan-wartawan lokal dalam melakukan liputan investigasi, dan sedikit gambaran bagaimana politik media memperlakukan liputan-liputan seperti ini.

Semoga tetap relevan.

0 komentar:

Posting Komentar